"Sya, hari ini gajadi?" Anre meraih tangan Nesya saat gadis itu berjalan pelan di koridor.
"Emang kita mau ngapain?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Buset dah lu udah lupa aja. Baru juga tadi pagi diomongin. Kelompok kita kan mau nge-shoot scene pertama di komplek perumahan lo sore ini."
"Oh, iya ya."
"Aduuuhhh pikun amat sih lo. Yaudah cepet pulang terus siapin segala sesuatu yang kita perluin yah." Ucap Anre lembut seperti biasanya.
"Iya..."
***
"Si Nesya kenapa sih hari ini, Bob?" Cella mengunyah snack kering di toples.
"Gatau. Emang ada yang salah dengan Nesya?" Bobby nyengir kuda.
"Emang kalian gak ngerasa ada yang berubah? Nesya tuh udah jarang ngumpul-ngumpul lagi sama kita di rumah Anre. Udah gitu kalian merhatiin gak sih? Cara ngomongnya beda gitu. Nesya jadi lesu kayak gak punya semangat hidup gituu." Cella mengompori.
"Gue ngerasa banget, La!" Seru Anre tegas.
"Noh kan!" Cella menjentikan jari bersemangat.
"Alaaa, Nesya mah udah biasa kali gitu. Lu semua aja yang parnoan! Haha" Bobby ngawur.
"Tadi siang abis pulang les gue ketemu Nesya. Dia kayak lagi jalan bengong gitu. Sumpah tatapannya kosong, kayak lagi sedih. Gue jadi mikir mungkin dia gak enak badan dan mungkin rencana kita sore ini dibatalkan. Pas gue nyamperin Nesya dan nanya tentang jadi apa enggak nanti sore, ternyata dia lupa sore ini kita mau ngapain." Anre menjelaskan.
"Wah gaberes tuh anak! Ck." Cella mengguman sendiri.
"Yaelaaaaah. Kalian kayak gatau Nesya aja. Dia kan emang yang paling sok cool diantara kita Hahaha. Udahlah cabut sekarang yuk!" Bobby meraih kunci motornya lalu melangkah keluar, diikuti Anre dan Cella.
***
Anre, Cella, dan Bobby sampai di rumah Nesya tepat pukul lima sore. Mereka bertiga disambut Bik Inah yang membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Bik, Nesya mana?" tanya Cella.
"Non Nesya sedang dikamarnya, non. Dari kemarin beliau lesu dan selalu mengurung diri di dalam kamar. Sudah tiga hari ini ia tidak makan sama sekali, minum susu pun tidak mau."
"Apa?!" Bobby bertanya kaget. Begitu juga dengan Anre dan Cella yang menunjukan ekspresi sama. Kaget dan khawatir. "Kayaknya syuting buat tugas bahasa harus ditunda deh." Cella berkata kepada dirinya sendiri. Lebih baik untuk saat ini mengurusi Nesya yang tidak mau makan.
"Bibik udah usaha den, non, supaya non Nesya mau makan."
Bobby melipat tangannya di dada dan mengentak hentakan kaki kanannya di lantai. Ia tampak sangat khawatir, bercampur kesal dan bingung. Bobby-lah pembawa suasana ceria di gank mereka ini. Tapi ia akan berubah menjadi sangat serius kalau ada apa-apa dengan Nesya.
"Bik, mana makanan buat Nesya? Biar saya yang nyuapin. Mungkin dia mau." Cella berkata dengan nada khawatir. Bik Inah meninggalkan mereka sebentar dan kembali dengan nampan berisi makanan lengkap.
***
"Syaa, ini gue, Cella." Tok...Tok...Tok... "Syaaa"
Tidak terdengar jawaban apapun. Cella berusaha memutar kenop pintu kamar Nesya. Ternyata tidak terkunci. Ia menatap Anre dan Bobby yang berdiri dibelakangnya, lalu mereka pun mulai memasuki kamar Nesya.
"Nesya..............."
Cella duduk di sisi King Bed Nesya. Nesya tertidur membelakangi Cella. Anre menngguncang lembut tubuh mungil Nesya yang tampak lemah itu. "Nesya bangun dong." Suara Anre yang selalu menenangkan hati pun terdengar. Nesya mengucak matanya pelan lalu duduk dengan susah payah. Bobby dengan sigap membantu Nesya duduk.
"Te..Temen temen. Kalian ngapain?" Setengah sadar Nesya bertanya bingung. Matanya sembab seperti habis menangis semalaman.
"Syaa! Baru tadi pagi kita ketemu dan lo fine fine aja. Kenapa sore ini lo udah kayak gini?" Bobby bertanya dengan nada setengah membentak. Ia sangat khawatir dengan keadaan Nesya. "Lo gak makan tiga hari? Lo pikir lo bisa apa tanpa makan?" Nada suara Bobby semakin meninggi. Nesya memalingkan wajahnya dari tatapan Bobby. Ia ingin mengusir semua orang yang memasuki kamarnya tapi ia tidak bisa. Mereka bertiga adalah sahabat baiknya.
"Bob, sabar.." Cella mengelus tangan Bobby. Lalu menatap Nesya lembut.
"Sya, makan yah.." Dengan senyum manisnya, Cella menyodorkan sesuap nasi ke mulut Nesya. Nesya menggeleng pelan. Air matanya mulai keluar.
"Sya, lo kenapa sih? Lo aneh.." Anre semakin khawatir. Ia duduk di sisi ranjang Nesya dan mengelap air mata yang jatuh di pipi Nesya. "Plis jangan bikin kita bingung. Kalo lo ada masalah, cerita aja. Kita semua sahabat lo, kan?" Lanjut Anre.
"Maaf temen-temen..." Nesya menunduk. Ia tak dapat menahan air matanya.
"Sya. Gak bisa gini. Ceritain semuanya sya! Lo gak boleh nyimpen semua kesedihan itu sendirian. Kita ini bukan siapa-siapa! Kita ini sahabat lo! Kita care sama lo!" Cella berseru khawatir. Nesya menggelengkan kepalanya. Bobby yang berdiri sendiri menatap Nesya penuh arti.
"Oke. Mungkin emang bukan ini saatnya lo cerita. Tapi plis. Makan yaa..." Cella memaksakan tersenyum. Anre mengelus lembut rambut Nesya yang indah. Nesya terdiam. Ia benar-benar tidak ingin makan saat ini.
"Cell..." Cella menengok kearah Bobby. "Biar gue yang nyuapin Nesya, ya.." Kata Bobby yakin. Cella menatap kearah Nesya dan Anre. Nesya menundukan kepalanya, sedangkan Anre mengangguk tanda setuju. Cella berdiri dan memberikan nampan itu ke tangan Bobby. Sekarang gantian Bobby yang duduk di hadapan Nesya. Bobby menatap Nesya penuh arti. Nesya berusaha menghindar dari tatapan Bobby yang menekannya itu.
"Sorry, temen temen. Boleh gak gue cuma berdua aja sama Nesya disini?" Bobby berkata penuh arti, sedangkan tatapannya tidak terlepas dari wajah Nesya yang gugup. Anre dan Cella saling tatap bingung. Mereka tau, Nesya emang cuma paling deket sama Bobby. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Anre bangkit dari tempat tidur.
"Oke." Serunya mantap, dan menarik lembut tangan Cella keluar. Cella berusaha protes, tapi Anre segera menaruh jari telunjuknya di bibir Cella. Cella jadi salah tingkah. Mereka berdua pun berjalan keluar kamar, lalu menutup pintu.
***
"Apa apaan sih, Nre? Lo biarin mereka berdua di kamar? Itu artinya lo membuat Nesya semakin menutup diri sama kita berdua! Dia cuma mau cerita sama Bobby!" Cella protes setelah berada diluar kamar.
"SSSSTTT. jangan ribut dong Cell. Kita percaya aja sama Bobby. Lagian lo gak kasihan ngeliat keadaan Nesya tadi? Dia tertekan kalau kita rame-rame di dalem."
"Terus? Kita gak dianggep sebagai sahabat sama Nesya?"
"Nggak gitu Cella." Anre yang selalu bersikap paling dewasa menenangkan Cella. Ia memegang kedua lengan Cella lembut. "Kita biarin aja Nesya ngeluarin segala kesedihannya ke Bobby dulu kalau emang itu yang terbaik buat Nesya. Gue yakin pada akhirnya Nesya juga bakal nyeritain semuanya. Tapi bukan saat ini yang tepat." Anre tersenyum lembut menatap Cella. Lama mereka terhanyut dalam diam. Cella kemudian menepis tangan Anre dari lengannya dan memalingkan wajahnya dari senyuman maut itu. Ia tidak akan bisa menutupi perasaannya kepada Anre kalau Anre terus-terusan begini.
"Oke, kalo gitu kita bisa nguping dari sini kan?" Sesaat kemudian Cella tersenyum nakal dan menempelkan kupingnya di daun pintu. Anre hanya menggelengkan kepala dan menghela napas, membiarkan Cella melakukan apa yang ia mau sebelum cewek itu ngamuk lagi.
***
Bukan suasana nyaman yang ada di dalam kamar. Bobby dan Nesya semakin terlarut dalam keheningan yang menusuk.
"Gue gamau tau sya. Lo harus makan." Bobby menatap Nesya tajam lalu menyodorkan sesuap nasi. Nesya pun memakan suapan itu, sebelum Bobby mengamuk. Bobby terus menyuapi Nesya sampai akhirnya habis sudah nasi di piring itu. Mereka berdua masih terlarut dalam suasana tegang saat Nesya menghabiskan susunya.
Mereka berdua sama-sama tahu apa yang menjadi masalah Nesya saat ini. Ya, Bobby tahu semua itu. Hanya Bobby yang tahu masalah Nesya ini diantara mereka bertiga. Ia tahu persis Nesya sakit hati akan kedatangan Marcell seminggu yang lalu. Marcell adalah mantan Nesya sewaktu kelas sepuluh. Suatu hubungan yang menurut Bobby tidak bermakna sama sekali. Nesya sangat mencintai Marcell, tetapi apa? Marcell bersikap seolah Nesya tak ada. Dan dengan cepat mereka putus. Yang lebih membuat Bobby marah, dulu Marcell yang nembak Nesya, tetapi Marcell juga yang mutusin Nesya. Sudah jelas dimata Bobby Marcell hanya mempermainkan Nesya. Tapi Nesya? Ia tidak bisa move on dari Marcell dan terus menunggu Marcell. Semester dua kelas sepuluh Marcell pindah ke Bandung. Selama setahun ini Nesya berusaha melupakan Marcell dibantu oleh Bobby, Anre, dan Cella. Ia hampir berhasil, sampai pada saat kelas dua belas ini, Marcell kembali datang ke Jakarta dan ia bersekolah di sekolah yang sama seperti dulu. Dan yang lebih menyakitkan buat Nesya, baru seminggu di Jakarta, Marcell udah jadian dengan anak kelas sebelas, Cherly si kapten cheers. Marcell bertingkah seolah ia tidak pernah mengenal Nesya. Semua itu sangat menyakitkan buat Nesya......
"Bob..." Pandangan Nesya menerawang. "Pernah gak sih lo ngerasain hidup ini hampa?" Nesya mulai curhat. Bobby hanya memalingkan wajah dengan sejuta perasaan pahit di hatinya.
"Lo hidup di dunia, lo gak punya siapa-siapa. Lo pulang kerumah, tapi disana gak ada sosok orangtua yang menghangatkan lo!" Air mata Nesya mengalir deras. "Lo suka sama cowok, tapi cowok itu gakpernah nganggep lo ada! GAKPERNAH!!"
Bobby ikut meneteskan sebuah air mata tipis. Tentu saja ia sakit melihat Nesya seperti ini.
"Hampir dua tahun lo berusaha ngelupain dia! Hampir tiap malem lo nangis karena dia! Tapi apa? Dia balik kesini, Dia balik hanya untuk nyakitin lo untuk kesekian kalinya lagi, Bob. Pernah gak lo ngerasain itu?!" Nesya nyaris berteriak. Anre dan Cella bisa mendengar semua itu secara jelas dari luar kamar. Bobby memeluk tubuh Nesya yang dingin. Berharap bisa membagi kehangatan kedalam tubuh itu.
"Sebenernya buat apa sih Bob, gue hidup? Bokap gue gak peduli sama gue, nyokap gue apalagi. MARCEL JUGA GAK PERNAH PEDULI SAMA GUEEE..." Tangisan Nesya semakin terdengar jelas. Bobby melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua pipi Nesya dengan penuh emosi.
"LO GAK SENDIRI SYA! Lo punya kita bertiga! Gue, Anre, Cella selalu ada buat lo! Kapan pun lo butuh, lo bisa dateng ke kita!" Bobby membentak Nesya, membuat Nesya semakin menangis.
"Dan lu BODOH, sya! Lu bodoh karena selama ini nangisin cowok yang gak pernah peduli sama lo! Yang gak pernah nganggep elo itu ada untuk dia!" Bobby mengambil nafas sejenak, lalu kembali menatap Nesya tajam. "Air mata lo terlalu berharga buat lo keluarin sebanyak itu hanya untuk MARCELL!" Bobby tidak dapat menahan emosinya. Semua unek-uneknya akan ia keluarkan hari ini. Bobby melepaskan tangannya dari pipi Nesya, dan memalingkan wajahnya dari wajah yang menatapnya penuh air mata itu.
"Asal lo tau, sya....." Suara Bobby berubah lembut. "Lo udah punya seseorang yang lebih daripada Marcell..." Nesya memalingkan wajahnya dar Bobby. Ia tak mau mendengar lanjutannya.
"LIAT GUE SYA!" Bobby berseru. Nesya menatap Bobby dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir di pipinya.
"Ada orang yang SELALU ada buat lo. Yang MENCINTAI lo lebih tulus dibandingkan siapapun. Yang selalu nemenin kesedihan lo. Yang selalu care sama lo. Dia lebih pantas memiliki lo, sya.." Suara Bobby semakin melembut. Nesya menggelengkan kepalanya pelan sambil terus menangis dalam diam.
"Dan orang itu ada di depan mata lo, sya............."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar